Jumat, 26 Juni 2009

Matinya Facebook




altUups... tunggu dulu! Jangan kaget! Mungkin Anda yang membaca kolom saya ini akan bersikap pro atau kontra. Namun, lihat saja fakta dan fenomena di balik ini. Terus terang, mereka yang kaget membaca tulisan ini adalah mereka yang sangat termotivasi dan ketularan semangat Facebook.


Hal ini karena tidak habis-habisnya berbagai media mengupas soal demam Facebook. Bapak, ibu, adik, kakak, bahkan sampai kakek dan nenek pun bergabung dengan Facebook. Per Februari 2009, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia hampir berlipat dua—dengan penambahan lebih dari 800.000 pengguna baru. Setiap hari, 150.000 pengguna baru bergabung dengan Facebook. Dan, pertumbuhan keanggotaan Facebook di dunia tiga kali lebih cepat ketimbang MySpace, tulis majalah TIME, sewaktu mewawancarai Zuckerberg berkenaan masuknya Facebook sebagai perusahaan publik.

Bayangkan, ledakan pengguna Facebook dari AS mencapai 50 juta orang, atau lebih dari 20% jumlah penduduk di sana. Melihat jumlah itu, pengguna Facebook dari Indonesia masih bisa dikatakan “tidak signifikan”. Di antara mereka yang mendukung kelanggengan Facebook, misalnya, ada Robert Scoble yang dalam searchenginewatch.com menjuluki Facebook sebagai situs pencari vertikal. Apa bedanya dengan Google? Fungsionalitasnya. Kekuatan fungsi yang digerakkan oleh komunitas di dalam, konten. Dan, ini adalah gabungan situs pencari dan teknologi mahalo-Techmeme-Facebook.




Mengapa Facebook Bakal Pudar?



Setidaknya ada beberapa gejala yang patut Anda perhatikan. Apabila Anda mengamati dan mengenang berbagai macam kejayaan beberapa komponen dunia online, sebelum pudar, banyak orang cepat-cepat melakukan monetisasi. Nah, apakah Anda sudah melakukan monetisasi terhadap Facebook sebelum menjadi pudar?

Ingat sejarah akan berulang. Masa depan adalah pengulangan masa lalu. Banyak “hypes” yang menjanjikan telah pudar ditelan waktu. Mereka yang cepat memaksimalkan gejala ini dapat cepat memperoleh keuntungan finansial. Namun, mereka yang telat masuk hanya mendapatkan sisa-sisanya. Beberapa gejala yang akan membuat Facebook pudar adalah:

1. Perubahan Lanskap Peruntukannya. Coba Anda ingat-ingat, mengapa orang pertama kali suka Facebook? Tampilannya sederhana dan bersahaja, bersih, memberi kesan mudah. Anda yang masuk ke dalamnya segera melihat apa saja aktivitas Anda selama ini. Anda melihat dunia Anda. Lalu, apa jadinya kalau Anda dijadikan korban lewat lebih banyak iklan yang muncul, sehingga mereka mendapatkan keuntungan lewat berbagai pageviews? Akhirnya, lanskap yang bersahaja tampak hilang, dan lanskap bisnis yang menguasainya.

2. Facebook Adalah Milis Generasi Web 2.0. Siapa di antara Anda yang pernah bergabung dengan milis? Siapa di antara Anda yang membuat atau menjadi administrator suatu milis? Anda ingat, sekali Anda buat milis, apakah milis itu akan berkembang jika Anda tidak promosikan dengan menyebarkan undangan kepada teman-teman? Tidak mungkin, bukan? Apalagi kalau milis Anda terbenam dalam kuburan milis! Atau, sekalipun milis Anda mudah ditemukan, tetapi tidak ada atau sedikit orang yang bergabung di milis Anda, apakah pertemanan Anda dapat bertambah lewat milis? Coba jawab dengan jujur. Nah, sama halnya dengan Facebook. Jika Anda tidak melakukan promosi Facebook Anda dengan member undangan kepada komunitas yang ada di dalam Facebook, siapa yang akan berteman dengan Anda? Facebook umumnya adalah pertemanan tertutup, seperti halnya milis. Tertutup, maksudnya adalah tidak mendapat prioritas listing oleh situs pencari publik. Jadi, kalau Anda memang orang benar atau perusahaan Anda jujur dalam berbisnis, mengapa bersembunyi di dalam Facebook?

3. Spamming Invitations. Komunitas pertemanan Anda akan menjadi besar atau tidak, tergantung pada Anda yang mengarahkannya, seperti halnya milis yang Anda buat. Hanya bedanya, milis tidak bersifat multimedia, seperti halnya Facebook. Padahal, sifat milis sama seperti Facebook. Memiliki milis yang tidak dirawat, dapat mencoreng reputasi brand Anda secara online dibandingkan tidak memiliki milis sama sekali. Begitu pula memiliki situs web atau blog yang tidak berkembang dari tahun ke tahun, hal itu dapat melemahkan kredibilitas pelanggan Anda dibandingkan tidak memilikinya sama sekali. Nah, jika perusahaan Anda memiliki Facebook, tetapi pertemanannya sangat-sangat sedikit, lebih baik tidak memiliki sama sekali. Namun, tantangannya adalah jika Anda menyebar undangan ke banyak pengguna Facebook, apa jadinya? Sekarang, apa jadinya kalau inbox Anda mendapat banyak sekali undangan untuk bergabung dengan Facebook? Apakah Anda merasa jengkel? Ini adalah kontaminasi inbox lewat spamming invitations.

4. Sindrom Kelelahan Facebook. Sekarang oke-lah, Facebook cukup menyenangkan dan menghibur bagi para pemula. Facebook merupakan fenomena sosial yang mengesankan. Namun, coba lihat, jutaan orang segera berhenti memeriksa dan menambah profil mereka setiap hari atau setiap minggu. Tahukah Anda bahwa, menurut para periset Inggris, menghabiskan terlalu banyak waktu di jejaring sosial dan dunia virtual dapat menimbulkan kanker, tekanan darah tinggi, darah menjadi kental, stroke, dan dementia? Sebaliknya, jurnal Biologist menyebutkan interaksi tatap muka menghasilkan efek hormonal yang positif pada tubuh. Komunikasi online rupanya memiliki efek merugikan pada tubuh. Ini ditandaskan oleh Mediapost.com edisi 20 Februari 2009.

5. Bout of Viral Narcissism. Ini adalah istilah yang dipaparkan oleh majalah Time sehubungan dengan efek viral jangka pendek dari Facebook perihal semua gegap gempita dari application programming interface milik Facebook, yang selain menghibur juga menjengkelkan. Ini disinggung oleh Fred Wilson di AVC.com.

6. Setelah IPO. Apa jadinya kalau Facebook akan menjadi perusahaan publik menurut perkiraan readwriteweb.com? Sekali Facebook menjadi suatu bisnis yang diharapkan menyedot banyak uang dari para investornya, maka peruntukan awal mengapa Facebook didirikan akan hilang. Dan, pada saatnya, Facebook akan kehilangan ke-”seksi”-annya dan akhirnya akan sama saja dengan semua komponen dalam dunia maya, entah Anda berkomunikasi atau melakukan pemasaran.

Jadi, sebelum Facebook menjadi mati (baca: pudar), maksimalkan Facebook untuk monetisasi dan reputation building sekarang ini juga. Namun, hati-hati!

Oleh: Bob Julius Onggo

( redaksi@wartaekonomi.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )



Bob Julius Onggo adalah penulis buku laris Googlepreneur, GooglePR, dan Google Is My Salesman.



Tulisan ini dikutip dari majalah Warta Ekonomi edisi 09/XXI/2009, halaman 70-71. Judul asli tulisan ini adalah “Matinya Facebook.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar