Senin, 16 November 2009

TUGAS PERILAKU ORGANISASI

open this file :

http://202.162.194.70/download/Laporan_vmt_kutacane_mrt09.pdf.

http://lead.sabda.org/kategori_bahan_indo_lead/leadership_team

PERILAKU KEORGANISASIAN

“MAKALAH tentang TEAM DAN KERJA TEAM


Disusun Oleh:

1. Ahmad Nizar (07610011)

2. Ani Kuswaningsih (07610017)

3. Nevia Sandra Dewi (07610028)

4. Fiqi Eko Putranto (07610231)

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Popularitas tim dewasa ini semakin meningkat dimana bukti menunjukkan bahwa lazimnya kinerja tim lebih unggul daripada kinerja individu bila tugas yang harus dilakukan menuntut keterampilan, penilaian, dan pengalaman yang bervariasi. Ketika organisasi-organisasi melakukan restrukturisasi agar bisa bersaing secara lebih efektif dan efisien, mereka menggunakan tim sebagai cara untuk memberdayakan bakat karyawan secara lebih baik. Manajemen telah menemukan bahwa tim lebih tanggap dan reponsif terhadap perubahan peristiwa ketimbang departemen-departemen tradisional atau bentuk-bentuk lain dari kelompok-kelompok yang permanen. Tim memiliki kemampuan untuk cepat berkumpul, menyebar, berfokus-ulang, dan membubarkan diri.

Tetapi janganlah meremehkan sifat-sifat motivasional tim, mengenai peran keterlibatan karyawan sebagai motivator, tim memfasilitasi partisipasi karyawan dalam menjalankan keputusan. Dimana tim merupakan cara yang efektif bagi manajemen untuk mendemokratisasikan organisasi mereka dan meningkatkan motivasi karyawan. Sedikit kecenderungan yang telah mempengaruhi pekerjaan karyawan yang mampu melebihi popularitas gerakan masif untuk memperkenalkan tim ke dalam tempat kerja. Pergeseran dari bekerja sendiri ke bekerja dalam tim menuntut karyawan untuk saling kerja sama, berbagi informasi, menyelesaikan perbedaan-perbedaan, dan mengurangi kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar bagi timnya.

Tim yang efektif ternyata mempunyai karakteristik umum. Pekerjaan yang dilakukan anggota hendaknya memberikan kebebasan dan otonomi, peluang untuk menggunakan keterampilan dan bakat yang berbeda, kemampuan untuk menyelesaikan tugas atau produk secara menyeluruh dan yang sudah diidentifikasi dan pekerjaan yang mempunyai dampak besar pada yang lain. Tim-tim menuntut individu-individu memiliki keahlian teknis, dan juga keterampilan penyelesaian masalah, pengambilan keputusan dan keterampilan hubungan antar pribadi, dan skor tinggi pada karakteristik kepribadian keterbukaan, kemampuan untuk sepakat, kehati-hatian, dan kemantapan emosi.

Tim-tim yang efektif cenderung kecil dengan anggota kurang dari 10 orang. Tim memiliki anggota-anggota yang mengisi sumber daya yang sama, kepemimpinan yang efektif, iklim kepercayaan, serta evaluasi kinerja dan system imbalan yang mencerminkan kontribusi. Akhirnya tim yang efektif setia pada tujuan bersama, tujuan khusus tim, anggota yang percaya terhadap kemampuan tim, level konflik yang dapat dikelola, dan tingkat kemalasan social yang minim.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana perbedaan antara tim dengan kelompok?

2. Apa sajakah tipe-tipe tim yang ada dalam organisasi?

3. Bagaimana spesifikasi cirri-ciri tim yang efektif?

4. Apa keuntungan dan kerugian dari keanekaragaman tim kerja?

C. Tujuan Penyusunan

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dirumuskan di atas, maka tujuan penyusunan yang ingin dicapai adalah:

1. Ingin mengetahui perbedaan antara tim dengan kelompok

2. Ingin mengetahui tipe-tipe tim

3. Ingin mengetahui spesifikasi ciri-ciri tim yang efektif

4. Ingin mengetahui keuntungan dan kerugian dari keanekaragaman tim kerja

D. Manfaat Penyusunan

Makalah yang berjudul “Team dan Kerja Team” ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Semua mahasiswa UMM khususnya fakultas Ekonomi untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam organisasi.

2. Diharapkan bermanfaat bagi masyarakat yang belum mengerti apakah Team dan Kerja Team itu.

BAB 2

PEMBAHASAN

A. PERBEDAAN ANTARA TIM DENGAN KELOMPOK

Tim tidak sama dengan tim. Dalam bagian ini mendefinisikan dan memperjelas perbedaan antara kelompok kerja dan tim kerja. Kelompok adalah sebagai dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung (independent), yang bergabung untuk meraih tujuan tertentu. Sedangkan kelompok kerja adalah kelompok yang berinteraksi terutama untuk berbagi informasi dan mengambil keputusan agar bisa membantu tiap anggota berkinerja dalam bidang sesuai tanggung jawab masing-masing. Kelompok kerja tidak perlu atau tidak punya kesempatan untuk terlibat dalam kerja kolektif yang menuntut upaya gabungan.

Jadi kinerja mereka hanya sekadar jumlah kinerja yang disumbangkan oleh masing-masing individu anggota kelompok. Tidak ada sinergi positif yang akan menciptakan tingkat kinerja yang lebih besar daripada jumlah input. Tim kerja membangkitkan sinergi positif lewat upaya terkoordinasi. Upaya-upaya individual mereka menghasilkan tingkat kinerja yang lebih besar daripada jumlah input masing-masing individu. Definisi-definisi ini membantu memperjelas mengapa akhir-akhir ini banyak organisasi merestrukturisasi proses kerja ke dalam tim. Manajemen sedang mencari sinergi positif yang memungkinkan organisasi mereka meningkatkan kinerja.

Pemanfaatan tim secara ekstensif akan menciptakan potensi dalam organisasi untuk meningkatkan output yang lebih besar tanpa peningkatan input. Tidak ada yang ajaib dalam penciptaan tim yang menjamin tercapainya sinergi positif ini. Sekadar menyebut kelompok sebagai tim tidaklah otomatis meningkatkan kinerjanya. Tim yang berhasil atau berkinerja tinggi mempunyai karakteristik umum tertentu, jika manajemen mengharapkan memperoleh peningkatan kinerja organisasi lewat penggunaan tim, perlu dipastikan bahwa tim mereka memiliki karakteristik ini.

Table 1. Perbedaan antara kelompok kerja dan tim kerja

Perbedaan

Kelompok Kerja

Tim Kerja

Sasaran

Berbagi informasi

Kinerja bersama

Sinergi

Netral (terkadang negative)

Positif

Akuntabilitas

Individu

Individu dan timbal balik

Keahlian

Acak dan variasi

Saling melengkapi

B. TIPE-TIPE TIM

Tim dapat melakukan berbagai al bisa menghasilkan produk, memberikan jasa, merundingkan transaksi, mengkoordinasi proyek, menawarkan nasihat, dan mengambil keputusan. Dalam tim terdapat empat bentuk tim yang paling lazim yang kemungkinan besar akan dijumpai dalam organisasi yaitu:

1. Tim Pemecahan Masalah

Lazimnya, tim tersusun atas lima sampai 12 karyawan jam-jaman dari satu departemen yang bertemu selama beberapa jam tiap pekan untuk membahas perbaikan kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja. Dalam tim pemecahan masalah anggota berbagi gagasan atau menawarkan saran mengenai cara memperbaiki proses dan metode kerja. Tetapi jarang tim-tim ini diberi wewenang untuk melaksanakan secara sepihak setiap tindakan yang mereka sarankan.

2. Tim Kerja Swa Kelola

Tim pemecahan masalah sudah berada di jalu yang benar, tetapi tidak cukup jauh melibatkan para karyawan ke dalam keputusan dan proses yang terkait dengan kerja. Kondisi ini menghasilkan eksperimentasi berupa tim-tim yang benar-benar otonom tang tidak hanya dapat memecahkan masalah tetapi juga mengimplementasikan jalan keluar dan memikul tanggung jawab sepenuhnya akan hasil-hasilnya. Tim kerja swa kelola adalah kelompok karyawan (biasanya 10 sampai 15 orang) yang memiliki kinerja tinggi atau memiliki pekerjaan yang saling bergantung serta memikul tanggung jawab mantan penyelia mereka. Lazimnya, tim ini mencakup perencanaan dan penjadwalan kerja, pengendalian kolektif atas langkah kerja, pembuatan keputusan operasi, dan pengambilan tindakan untuk mengatasi maslah. Tim kerja yang sepenuhnya merupakan tim swa kelola bahkan memilih anggota-anggotanya sendiri dan menyuruh anggota itu untuk saling menilai kinerja. Akibatnya jabatan penyelia tidak menjadi begitu penting lagi dan bahkan dapat disingkirkan.

3. Tim Lintas Fungsional

Tim lintas fungsional adalah tenaga kerja dari tingkat hierarki yang sama, tetapi dari tempat pekerjaan yang berbeda. Tim lintas fungsional merupakan sarana efektif yang memungkinkan orang-orang dari aneka bidang dalam organisasi (atau bahkan antar organisasi) untuk bertukar informasi, mengembangkan gagasan baru dan memecahkan masalah, serta mengkoordinasikan proyek yang rumit. Tentu saja, tim lintas fungsional tidak bisa bersantai-santai saat menjalankan tugasnya. Tahap awal perkembangannya sering kali begitu menghabiskan waktu karena anggota-anggotanya belajar bekerja dalam keanekaragaman dan kerumitan. Diperlukan waktu untuk membina kepercayaan dan kerja tim, terutama di antara orang-orang dari latar belakang yang berbeda dengan pengalaman dan perspektif yang berlainan.

4. Tim Virtual

Model-model tim sebelumnya mengerjakan pekerjaan mereka secara tatap muka. Tim virtual menggunakan teknologi computer untuk mengikat anggota-anggota yang secara fisik terpencar untuk mencapai sasaran bersama. Tim virtual memungkinkan orang untuk bergabung secara langsung dengan menggunakan hubungan komunikasi seperti wide-area network, konferensi video dan email baik anggota-anggota tim itu hanya sekadar berada di ruang lain atau bahkan berada di benua lain. Tim virtual dapat melakukan sesuatu seperti yang dilakukan tim lain berbagi informasi, pengambilan keputusan, menyelesaikan tugas. Dan mereka dapat melibatkan anggota organisasi yang sama atau menghubungkan anggota orhanisasi dengan karyawan organisasi lain (misalnya pemasok dan mitra patungan). Mereka dapat bertemu beberapa hari untuk memecahkan masalah, beberapa bulan untuk menyelesaikan proyek atau membentuk tim secara permanen.

Tiga factor utama yang membedakan tim virtual dengan tim tatap muka adalah:

1. Tidak adanya petunjuk para verbal dan nonverbal

2. Konteks social terbatas

3. Kemampuan untuk mengatasi hambatan waktu dan ruang

C. MEMBENTUK TIM YANG EFEKTIF

Kompenen-komponen penting yang menciptakan tim yang efektif dapat digolongkan ke dalam empat kategori yaitu:

1. Rancangan Pekerjaan

Tim-tim yang efektif perlu bekerja bersama dan memikul tanggung jawab kolektif untuk menyelesaikan tugas-tugas penting. Kategori rancangan kerja meliputi variable-variabel seperti kebebasan dan otonomi, peluang untuk menggunakan keterampilan dan bakat yang berbeda, kemampuan untuk menyelesaikan semua tugas atau produk yang dapat diidentifikasi, dan mengerjakan tugas atau proyek yang mempunyai dampak besar pada yang lain.

2. Komposisi

Kategori ini mencakup variable-variabel yang berhubungan dengan cara pengisian staf ke dalam tim yaitu:

· Kemampuan anggota

Agar dapat bekerja secara efektif, tim menuntut tiga tipe keterampilan yang berbeda. Pertama, tim memerlukan orang-orang dengan keahlian teknis, kedua, tim memerlukan orang dengan keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan agar mampu mengidentifikasi masalah, menghasilkan alternative, mengevaluasi alternative dan membuat pilihan yang kompeten.

· Kepribadian

Kepribadian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pegawai individu. Perilaku ini dapat juga diperluas ke perilaku tim. Banyak dimensi yang teridentifikasi dalam model kepribadian lima besar ternyata memang relevan dengan efektivitas tim.

· Mengalokasi peran dan keragaman

Tim-tim mempunyai kebutuhan berbeda dan orang-orangnya hendaknya dileksi untuk bisa masuk tim guna memastikan bahwa ada keanekaragaman dan bahwa semua peran berbeda itu diisi.

· Ukuran tim

Dalam merancang tim yang efektif harus menjaga agar jumlahnya tetap di bawah 10. Jika unit kerja yang alami itu lebih besar dan menginginkan upaya tim pertimbangkan untuk memcah kelompok itu menjadi beberapa subtim.

· Fleksibilitas anggota

Tim yang terdiri dari individu yang fleksibel memiliki anggota yang dapat saling membantu menyelesaikan tugas. Jelas ini merupakan nilai plus karena sangat meningkatkan adaptabilitasnya dan embuatnya tidak terlalu mengandalkan satu anggota saja.

· Kelebih sukaan anggota

Disarankan bahwa ketika menyeleksi anggota tim, kelebih sukaan individu harus dipertimbangkan demikian pula kemampuan, kepribadian, dan keterampilan. Tim yang berkinerja tinggi cenderung terdiri dari orang yang lebih menyukai bekerja sebagai bagian dari kelompok.

3. Konteks

Empat factor konteks yang tampak paling erat berhubungan dengan kinerja tim adalah adanya:

· Sumber daya yang memadai

Semua tim kerja mengandalkan sumber daya di luar kelompok untuk mendukung kelompok itu. Dan kelangkaan sumber daya secara langsung akan mengurangi kemampuan tim untuk menjalankan tugas secara efektif.

· Kepemimpinan dan struktur

Anggota tim harus sependapat mengenai tugas masing-masing dan memastikan bahwa semua anggota member sumbangan yang sama dalam berbagi beban kerja. Selain itu, tim perlu menetapkan bagaimana jadwal ditentukan, keterampilan apa yang perlu dikembangkan, bagaimana memecahkan konflik dan bagaiman cara kelompok mengambil dan memodifikasi keputusan.

· Iklim kepercayaan

Anggota tim yang efektif harus saling percaya, juga menunjukkan kepercayaan pada pimpinan mereka. Kepercayaan interpersonal di antara anggota tim memudahkan kerjasama, mengurangi kebutuhan untuk memantau perilaku satu sama lain, dan mengikat anggota pada kepercayaan bahwa anggota tim lain itu tidak akan memperalat mereka.

· Evaluasi kinerja dan system imbalan

Evaluasi dan system imbalan tradisional yang berorientasi individu harus dimodifikasi agar mampu mencerminkan kinerja tim. Evaluasi kinerja individual, upah per jam yang tetap, insentif individual dan semacamnya, tidaklah konsisten dengan pengembangan tim berkinerja tinggi. Jadi selain mengadakan evaluasi harus mempertimbangkan penilaian berdasarkan kelompok profit sharing, gainsharing, insentif pada kelompok kecil, dan modifikasi system lain yang memperkuat upaya dan komitmen tim.

4. Proses

Kategori terakhir yang berkaitan dengan efektivitas tim adalah variable proses. Termasuk di dalamnya yaitu:

· Tujuan bersama

Tujuan yang efektif mempunyai tujuan bersama dan berarti yang memberikan pengarahan, momentum, dan komitmen ke anggota.

· Tujuan yang spesifik

Tim yang sukses menerjemahkan tujuan bersama mereka menjadi tujuan kinerja yang realistis, dapat diukur, dan spesifik. Tepat seperti bagaimana tujuan membimbing individu ke kinerja yang lebih tinggi, tujuan juga member eniergi ke tim.

· Kehebatan tim

Tim yang efektif mempunyai kepercayaan diri. Mereka yakin dapat sukses, kami menyebutnya kehebatan tim. Kesuksesan menghasilkan kesuksesan pula, tim yang telah mencapai keberhasilan akan meningkatkan keyakinan mereka tentang kesuksesan yang akan datang yang pada gilirannya, memotivasi mereka untuk bekerja lebih keras.

· Tingkat konflik

Konflik dalam tim tidak selalu merupakan hal yang buruk, maka konflik sesungguhnya dapat memperbaiki efektivitas tim. Tetapi tidak semua jenis konflik, konflik-konflik hubungan konflik berdasarkan ketidakcocokan pribadi, ketegangan dan dendam terhadap yang lain hampir selalu disfungsional.

· Kemalasan social

Mereka dapat terlibat dalam kemalasan social dan bergantung pada usaha kelompok karena sumbangan individual mereka tidak dapat diidentifikasi. Tim yang berkinerja tinggi mengurangi kecenderungan ini dengan membuat diri mereka dapat dimintai pertanggung jawaban baik pada tingkat individu maupun pada tingkat tim.

D. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DARI KEANEKARAGAMAN TIM KERJA

Table 2. Keuntungan dan Kerugian Keragaman

No.

Keuntungan

Kerugian

1.

perspektif yang beranekaragam

ambiguitas

2.

terbuka lebar untuk ide baru

kompleksitas

3.

interpretasi ganda

kekacauan

4.

meningkatkan kreativitas

salahpaham

5.

meningkatkan fleksibelitas

sulit menemukan kesepakatan tunggal

6.

meningkatkan keahlian memecahkan masalah

sulit menyetujui tindakan khusus

Mengelola keanekaragaman pada tim merupakan tindakan menyeimbangkan antara keuntungan dan kerugian keragaman. Lazimnya keanekaragaman memberikan perspektif segar mengenai berbagai isu tetapi keragaman itu membuat lebih sukar untuk mempersatukan tim dan mencapai kesepakatan. Alasan terkuat untuk mendukung keanekaragaman pada tim kerja adalah bila tim-tim itu terlibat dalam tugas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Tim yang heterogen membawa perspektif ganda ke dalam pembahasan, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa tim akan mengidentifikasi pemecahan yang kreatif atau unik.

Di samping itu, tidak adanya perspektif bersama biasanya berarti tim yang beranekaragam itu menghabiskan lebih banyak waktu untuk membahas isu itu, yang mengurangi peluang bahwa alternative lemah akan dipilih. Studi-studi mengatakan kepada kita bahwa anggota tim yang kohesif mempunyai tingkat kepuasan yang lebih besar, kemangkiran yang lebih rendah, dan pengurangan keminderan anggota kelompok. Namun kemungkinan besar kohesivitas akan lebih rendah pada tim yang beranekaragam. Jadi di sini ada potensi negative dari keanekaragaman:keanekaragaman merugikan kelompok kohesivitas kelompok.

Hubungan antara kohesivitas dan produktivitas kelompok diperlunak oleh norma-norma yang terkait pada kinerja. Kami berpendapat bahwa jika norma tim mendukung keanekaragaman, maka tim dapat memaksimalkan nilai heterogenitas sementara, sekaligus, mencapai manfaat kohesivitas yang tinggi. Kenyataan ini memberikan dukungan yang kuat bagi anggota tim untuk berperan serta dalam pelatihan keanekaragaman.

Menyegarkan Kembali Tim yang Sudah Matang

Tim yang sudah matang terutama cenderung menderita penyakit pikiran kelompok. Anggota-anggota mulai meyakini bahwa mereka dapat membaca pikiran semua orang sehingga mereka mengasumsikan mereka tahu apa yang dipikirkan oleh semua orang. Akibatnya, anggota tim menjadi enggan untuk menyatakan pikiran mereka dan kemungkinannya kecil untuk saling menantang. Apa yang dapat dilakukan untuk menyegarkan kembali tim yang matang yaitu terdapat empat saran yaitu :

(1) Siapkan anggota untuk menangani masalah kematangan

(2) Tawarkan pelatihan penyegaran

(3) Tawarkan pelatihan lanjutan

(4) Dorong tim untuk memperlakukan pengembangan mereka sebagai pengalaman belajar yang terus menerus.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat kita simpulkan bahwa kerja tim adalah kelompok di mana individu menghasilkan tingkat kinerja yang lebih besar daripada jumlah masukan individu tersebut. Tim kerja membangkitkan sinergi positif lewat upaya terkoordinasi. Upaya-upaya individual mereka menghasilkan tingkat kinerja yang lebih besar, pemanfaatan tim secara ekstensif akan menciptakan potensi dalam organisasi untuk meningkatkan output yang lebih besar tanpa meningkatkan input. Tim yang berhasil atau berkinerja tinggi mempunyai karakteristik umum tertentu. Dalam tim kerja mempunyai sasaran yaitu melakukan kinerja bersama, mempunyai sinergi yang positif, akuntanbilitas secara individu dan timbal balik dan keahlian yang dimiliki harus saling melengkapi.

Dalam membentuk tim yang efektif harusnya memperhatikan komponen-komponen penting yang menciptakan tim yang efektif dapat digolongkan menjadi empat kategori umum. Kategori yang pertama adalah rancangan pekerjaan, yang kedua adalah berkaitan dengan komposisi tim. Yang ketiga adalah sumber dan pengaruh kontekstual lain yang membuat tim menjadi efektif dan yang terakhir adalah variable proses yang mencerminkan sesuatu yang terjadi dalam tim yang mempengaruhi efektivitas. Sehingga kerja tim sangat diperlukan dalam suatu organisasi ataupun masyarakat agar tercipta tingkat kinerja yang tinggi sehingga tujuan bersama akan dicapai sesuai dengan yang diharapkan bersama.

B. Saran / Rekomendasi

Penulis sangat menghimbau kepada organisasi dan masyarakat umum terutama kepada penulis sendiri agar selalu berusaha dalam melaksanakan atau menjalankan kerja tim baik dalam kehidupan berorganisasi maupun dalam bermasyarakat. Dan mampu dalam menjalankan kerja tim sehingga dapat bekerja sama, bertoleransi, bekerja keras dan saling memotivasi satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama. Sehingga dalam menjalankan suatu kegiatan dan untuk mencapai tujuan bersama sangat diperlukan adanya kerja tim yang baik antara anggota tim dengan anggota tim yang lain dimana dalam menjalankannya harus kompak dan secara bersama-sama dapat menyelesaikan semua kegiatan yang sudah direncanakan dan menghasilkan tingkat kinerja yang tinggi. Untuk siapapun yang menjadi pemimpin agar tidak lupa untuk menerapkan adanya kerja tim karena kerja tim itu sangat penting dan diperlukan dalam mencapai suatu tujuan organisasi sesuai dengan teori-teori yang sudah ada dan dipelajari mengenai kerja tim.

DAFTAR PUSTAKA

P.Robbins, Stephen. 2006. Perilaku Organisasi Edisi Kesepuluh. Indeks. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar